candi badut

Candi Badut

Candi Badut, begitu mendengar nama ini mungkin beberapa dari kita akan merasa penasaran karena penamaannya yang unik. Sebagian besar orang mungkin akan menyangka jika candi ini diberi nama sedemikian rupa karena bentuknya yang menyerupai badut. Berbagai versi muncul tentang asal-usul penamaan candi Badut.Yang paling dikenal adalah 3 cerita dibalik penamaannya yang bisa kita temukan nantinya di dalam artikel ini.

Candi inibisa kita temukan di daerah Karang Besuki, Dau, Malang. Candi ini diperkirakan memiliki usia lebih dari 100 tahun. Alasan inilah yang membuat candi ini menjadi candi tertua di daerah Jawa Timur. Menurut sejarahnya, candi ini ditemukan oleh Maureen Brecher yang adalah seorang kontrolir Belanda yang bekerja di Malang di tahun 1921. Saat ditemukan, candi ini masih berupa gundukan yang terdiri dari reruntuhan batu bercampur dengan tanah.

Fakta lain tentang keberadaan candi Badut juga bisa kita temukan di prasasti Dinoyo. Prasasti ini dalam salah satu baitnya menyebutkan bahwa ada seorang raja serta para pejabatnya yang membangun sebuah kuil untuk menghilangkan penyakit yang menghancurkan semangat. Sesuai dengan prasasti ini, candi Badut didirikan di tahun 682 Saka atau 760 Masehi. Di masanya, candi ini adalah tempat beribadah yaitu untuk memuja dewa Siwa atau lebih tepatnya persembahan untuk Resi Agastya.

Fungsinya yang berperan sebagai tempat pemujaan bagi dewa Siwa membuat candi ini disebut juga sebagai Maha Sipawana. Untuk merekonstruksi kembali bangunan candi maka pemugaran juga dilakukan pada tahun 1925 dan memakan waktu sekitar 2 tahun. Pada akhirnya, bangunan candi kembali utuh meski bagian atapnya dibiarkan begitu saja karena tidak juga ditemukan. Hubungan erat keberadaan candi dengan pemujaan Siwa bisa dibuktikan karena adanya penemuan lingga dan yoni yang merupakan simbol dari Siwa dan Parwati.

Berbagai versi penamaan candi Badut

Penamaan candi berdasarkan dari nama sebuah pohon

Dikisahkan pada masa itu, ada banyak sekali pohon badut di wilayah candi sehingga dusunnya disebut sebagai dusun Badut. Dengan sendirinya, candi yang berada di lokasi ini juga disebut sebagai candi Badut.

Penamaan candi berdasarkan nama kecil dari Raja Gajayana

Raja Gajayana adalah pendiri dari candi Badut. Saat kecil, sang raja dipanggil dengan sebutan Liswa yang berarti anak yang lucu menurut bahasa Jawa. Akhirnya, candi yang dibangun rajapun diberikan nama Badut.

Penamaan candi berdasarkan nama dari Resi Agastya

Menurut versi yang terakhir ini, nama candi Badut berasal dari kata Badyut yang berarti cahaya bintang Agastya. Kata ‘Ba’ disini dimaksudkan merujuk pada bintang Agastya. Kata ‘Dyut’ adalah cahaya atau sinar. Sedangkan kata ‘mendut’ diambil sebagai perbandingan kata ‘Men’ yang bisa berarti sorot dan ‘Dyut’ yang berarti cahaya. Secara keseluruhan, nama Badut disini berarti sorot cahaya Agastya.

Rute menuju candi Badut

Bagi kita yang memulai perjalanan ke candi Badut dari bandara Abdurahman Saleh Malang maka bisa memilih untuk menaiki bandara dengan membayar biaya sebesar Rp. 100.000 dengan lama perjalanan sekitar 45 menit. Namun jika kita memulai perjalanan dari area museum Brawijaya maka akan membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 29 menit dengan angkot jurusan ADL. Jika kita berada di alun-alun Malang dan ingin mengunjungi candi yang satu ini maka bisa menggunakan angkot jurusan GA/HA dengan perkiraan waktu tempuh selama 27 menit.

Biaya masuk lokasi candi Badut

Bagi para pengunjung yang ingin menikmati obyek wisata candi Badut bisa dibilang beruntung. Hal ini dikarenakan tidak adanya biaya yang dikenakan sebagai besaran tiket masuk ke dalam lokasi candi. Disana kita bisa bersantai dan menikmati pemandangan di taman yang berada di sekitar candi. Meski berada di tengah pemukiman penduduk namun candi yang satu tetaplah memancarkan keindahan dan kemegahan pada masanya.

Tempat wisata di sekitar candi Badut

Coban parangrejo

Coban adalah bahasa jawa untuk menyebut air terjun. Air terjun yang satu ini berlokasi di lereng gunung butak, dusun princi, desagading kulon, kecamatan dau, Malang.Dengan ketinggian 100 meter, air terjun ini justru alirannya tidak derasmelainkan mengucur pelan sehingga pengunjung bisa menikmati segarnya air terjun dari dekat. Selain menikmati pemandangan air terjun dan kesejukan pegunungan, pecinta kegiatan yang menantang bisa mencoba ‘ayunan setan’

Wanawisata bedengan

Terletak di desa selorejo, wanawisata bedengan menyajikan sejuknya hamparan hutan pinus dan aliran sungai yang jernih.Bagi yang ingin berkemah, disini juga disediakan camping ground dengan fasilitas lengkap.

Wisata petik jeruk

Di sekitar wanawisata bedengan terdapat agrowisata jeruk dengan luas mencapai 240 hektar.Biaya masuk area agrowisata ini adalah sebesar RP.15.000/orang.Pengunjung bisa makan jeruk sepuasnya disini dan jika ingin membawa jeruk sebagai buah tangan bisa membelinya seharga Rp. 5.000/kg.

Jessica Inggriani
Latest posts by Jessica Inggriani (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *