candi pawon

Candi Pawon

Candi pawon  memang tidak semegah candi Borobudur ataupun Prambanan. Meski demikian, candi yang satu ini memiliki keunikan dan misteri mengenai asal usul penamaan dan pembangunannya. Bagaimana tidak, meski candi ini adalah candi Budha namun memiliki paduan arsitektur beraliran Hindu jawa kuno dan juga India. Perpaduan tidak biasa inilah yang hingga kini bahkan masih menjadi misteri tersendiri dalam penggalian mengenai asal usul candi Kidal.

Candi Pawon memiliki bentuk persegi empat dengan atap yang bertingkat. Di dalam candi, kita akan bisa menemukan sebuah bilik yang berukuran cukup kecil bahkan lebih kecil jika dibandingkan dengan bilik yang bisa kita temukan di bangunan candi Mendut. Namun, di antara semua keunikan yang ada maka keberadaan lubang angin yang terdapat di bilik candi adalah yang terunik.

Lubang angin di bilik candi menimbulkan berbagai spekulasi antara lain :

-Kata pawon bisa dianalogikan sebagai dapur dalam bahasa jawa. Hal ini diamini oleh J.G de Casparis yang memiliki pendapat bahwa candi ini adalah tempat perabuan.

-masyarakat sekitar meyakini bahwa pawon bisa jadi adalah tempat pembakaran ataupun pembuangan sampah. 

Meski kedua hipotesa ini masih menimbulkan kesimpang-siuran namun satu hal yang bisa dipastikan adalah adanya proses pembakaran yang terjadi di area candi ini. Lubang ventilasi yang terdapat di bilik candi sendiri diyakini sebagai ventilasi atau tempat keluar masuknya angin dan juga asap hasil pembakaran.

Candi pawon sendiri juga sering disebut sebagai brajanalan yang menurut bahasa sansekerta adalah halilintar dan api. Material pembuatan candi sendiri adalah batuan vulkanik yang didapatkan dari sungai Elo. Begitu memasuki area candi, kita akan melihat atap candi yang berbentuk limas dengan hiasan stupa-stupa kecil. Pada dinding candi terdapat relief pohon hayati atau kalpataru yang diapit oleh pundi-pundi dan kinara-kinari.Kinara-kinari ini adalah makhluk yang berkepala manusia dan berbadan burung.

Memasuki areal candi, kamu akan disuguhi deretan stupa kecil di atapnya yang berbentuk limas. Sedangkan di dindingnya terpahat pohon hayati (kalpataru) yang diapit dengan pundi-pundi dan kinara-kinari atau makhluk berkepala manusia dan berbadan burung.Motif pahatan yang ada di Candi Pawon mirip dengan pahatan di kedua candi lainnya.Bahkan sebuah penelitian menyebutkan bahwa relief di Candi Pawon merupakan awal dari relief di Candi Borobudur.

Candi pawon bisa menjadi destinasi wisata kita selain Borobudur.Masih banyak hal yang masih perlu dipelajari dan digali dari keberadaan candi ini.Hal ini dikarenakan hingga saat inipun belum diketahui jelas fungsi sebenarnya dari candi ini apakah sekedar tempat beristirahat para peziarah, tempat pembakaran sisa ritual keagamaan atau bahkan lokasi kremasi para raja. Terlepas dari berbagai pertanyaan yang timbul, kita bisa melakukan banyak hal menarik disini antara lain melakukan kegiatan bersepeda mengelilingi candi Mendut, candi Pawon dan candi Borobudur. Perjalanan ini sesuai dengan apa yang biasa dilakukan oleh peziarah di masa lalu yang biasa mengambil rute ini.

Rute menuju Candi Pawon

Lokasi candi berada di tengah permukiman warga. Meski demikian, kita tidak perlu khawatir akan kesulitan karena ada banyak petunjuk arah menuju candi Pawon. Jika kita memulai perjalanan dari Yogyakarta atau Magelang maka bisa menelusuri rute jalan menuju candi Borobudur.Setelah sampai di pertigaan sehabis melewati jembatan panjang kali Elo maka kita tinggal mengambil arah kiri dan terus mengikuti jalan yang ada.Candi ini berada di sebelah kiri jalan. Dari area candi Borobudur, kita bisa menemukan candi ini dengan cara naik andong, bersepeda, naik becak atau bahkan berjalan kaki.

Jam operasional dan harga karcis masuk

Candi ini terbuka untuk umum dan bisa mulai dikunjungi pada setiap harinya mulai dari jam 6 pagi sampai dengan jam 5 sore. Karcis masuknya sendiri tergolong sangat terjangkau karena hanya seharga Rp. 3.300.

Lokasi wisata lain di dekat candi Pawon

Candi Borobudur

Candi Borobudur sangat terkenal di dunia sehingga bahkan termasuk dalam daftar world of heritage UNESCO. Terkenal akan kemegahan bangunan dan arsitekturnya, candi ini bisa disebut sebagai mahakarya dari para seniman di jamannya. Tidak hanya menjadi salah satu destinasi wisata terkenal, candi ini juga masih dijadikan pusat kegiatan ibadah Waisak dan juga pesta lampion.

Candi Mendut

Lokasinya yang berada di tepi jalan raya Jogja membuat candi Mendut akan sangat mudah untuk ditemukan. Di kompleks candi Mendut, ada ruang bilik yang digunakan sebagai tempat ebrdoa sekaligus singgasana bagi 3 arca Budha raksasa. Jika ingin, kita juga bisa mengikuti ritual canting di Budhist Monastery untuk mencoba mencari ketenangan dengan cara bermeditasi.

Rumah seni Elo-Progo

Rumah ini adalah galeri seni yang berada di tebing tempat pertemuan aliran sungai Elo dan sungai Progo. Rumah ini sendiri selain sebagai rumah tinggal tapi juga adalah galeri lukis dari Sony Santosa. Disini, para seniman baik itu sastra, lukis, teater atau bahkan masyarakat biasa yang mencintai seni bisa belajar sekaligus menikmati suasana pedesaan. Bahkan rumah ini juga kerap dijadikan sebagai galeri atau ruang pameran.

Rafting sungai Elo

Para pecinta olahraga yang memacu adrenalin bisa mencoba permainan rafting di sungai Elo. Arusnya  yang tidak terlalu deras sangat cocok bahkan bagi para pemula sekalipun.

Museum seni H. Hidayat

Berada di tepi jalur utama yang menghubungkan candi Mendut dan Borobudur, museum yang satu ini adalah tempat bagi pelukis H. Widayat untuk memamerkan karya seni miliknya dan juga milik para seniman lainnya. Tidak hanya sekedar ruang pameran, disini kita akan menemukan artshop bahkan taman tropis.

Jessica Inggriani
Latest posts by Jessica Inggriani (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *